Sabtu, 16 April 2011

Macam Stimulasi anak berbicara

Kesadaran dan perhatian sebagian orangtua masa kini akan perkembangan putra-putrinya sudah meningkat, antara lain seperti yang Anda perlihatkan. Biasanya anak mulai belajar merangkai kalimat setelah usia dua tahun. Di usia dua tahun, anak mulai merangkai dua atau tiga kata menjadi kalimat. Ia belum mampu merangkai beberapa kalimat, kecuali bagi sejumlah kecil anak yang perkembangan bahasa/bicaranya sangat pesat. Jadi tidak heran apabila ia masih berbicara dalam bahasa "planet" saat berkomunikasi dengan temannya, asalkan dia sudah dapat menyebutkan beberapa kata tunggal (tahap satu kata).
Orangtua perlu waspada akan keterlambatan perkembangan bahasa/ bicara apabila sampai usia dua tahun belum ada satu kata pun yang bisa diucapkan oleh anak, apalagi bila anak tidak mengerti perintah-perintah sederhana (misalnya, "tunjuk mana hidungmu", "ambilkan sepatu mama", dan seterusnya).
Pada usia dua tahunan, kalimat ujaran merupakan gabungan dua kata dan belum terlalu lancar diucapkan. Ketika menyebutkan kalimat, ada jeda antara kata pertama dan kata kedua. Tidak heran bila kemampuan berbicara anak di tahap ini seperti bahasa "telegram" (disebut telegraphic speech), singkat-singkat tetapi mengandung berbagai makna. Misalnya, dari ungkapan, "Ayo mbang." bisa berarti anak minta digendong kemudian tubuhnya digerak-gerakkan seperti pesawat terbang.
Bagaimana menstimulasi bahasa/bicara anak? Dengan sering kali mengajaknya berkomunikasi dan memperkenalkan nama-nama benda, kata kerja (misalnya, makan, tidur, berlari), nama tempat (di dalam, di atas), dan tempo bicara Anda sebaiknya diperlambat agar anak dapat menyimak pembicaraan orang dewasa dan pelan-pelan memahami serta menirunya. Cara lain adalah sambil beraktivitas, misalnya pada waktu main "perosotan" ucapkan kata-kata yang mewakili apa yang sedang dilakukan oleh anak. Sambil menaiki tangga perosotan, katakan "naik tangga"; "naik ke atas"; "duduk"; "merosot"; "bum sampe di bawah"; "horeee.. Ayo, naik lagi", dan seterusnya. Pada prinsipnya, anak akan belajar bahasa dari apa yang sering mereka lihat, dengar, dan lakukan. Sesekali tanyakan pada anak, "Baju Adek disimpan di mana?", atau "Ambil sepatu hitam yang ada di bawah tempat tidur". Dari komunikasi yang berlangsung, maka kosakata anak meningkat dan dia pun mengenal aturan main pada waktu berbicara. Ada giliran antara si pembicara dan pendengar. Komunikasi yang berlangsung antara orangtua dengan anak usia di bawah tiga tahun disebut parenthese, ditandai oleh nada bicara yang bervariasi, nada bicara meninggi, merendah, datar. Dengan demikian anak lebih mudah menangkap, mengingat, mengerti artinya.
Sekian dulu dan saya berharap Anda dapat memetik pengetahuan dari ulasan ini. Terima kasih atas pertanyaan yang diajukan



Keterlambatan Bicara Pada Anak, Normalkah?

Rabu, 03-09-2008 11:59:00 oleh: widodo judarwanto
Kanal: Kesehatan
Pendahuluan
Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Selain itu bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda.
Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5 - 10% pada anak sekolah.
Penyebab keterlambatan bicara sangat luas dan banyak, Gangguan tersebut ada yang ringan sampai yang berat, mulai dari yang bisa membaik hingga yang sulit untuk membaik. Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang sering dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara golongan ini biasanya ringan dan hanya merupakan ketidakmatangan fungsi bicara pada anak. Pada usia tertentu terutama setelah usia 2 tahun akan membaik. Bila keterlambatan bicara tersebut bukan karena proses fungsional maka gangguan tersebut haruis lebih diwaspadai karena bukan sesuatu yang ringan.
Semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebut. Bila keterlambatan bicara tersebut nonfungsional maka harus cepat dilakukan stimulasi dan intervensi dapat dilakukan pada anak tersebut. Deteksi dini keterlambatan bicara harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak ini. Kegiatan deteksi dini ini melibatkan orang tua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan dan dokter anak yang merawat anak tersebut. Sehingga dalam deteksi dini tersebut harus bisa mengenali apakah keterlambatan bicara anak kita merupakan sesuatu yang fungsional atau yang nonfungsional.

Proses Fisiologis Bicara
Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem neuromuskular untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung.
Terdapat 2 hal proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan motoris. Aspek sensoris meliputi pendengaran, penglihatan, dan rasa raba berfungsi untuk memahami apa yang didengar, dilihat dan dirasa. Aspek motorik yaitu mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi, tindakan artikulasi dan laring yang bertanggung jawab untuk pengeluaran suara.
Di dalam otak terdapat 3 pusat yang mengatur mekanisme berbahasa, dua pusat bersifat reseptif yang mengurus penangkapan bahasa lisan dan tulisan serta satu pusat lainnya bersifat ekspresif yang mengurus pelaksanaan bahsa lisan dan tulisan. Ketiganya berada di hemisfer dominan dari otak atau sistem susunan saraf pusat.
Kedua pusat bahasa reseptif tersebut adalah area 41 dan 42 disebut area wernick, merupakan pusat persepsi auditoro-leksik yaitu mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa lisan (verbal). Area 39 broadman adalah pusat persepsi visuo-leksik yang mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang bersangkutan dengan bahasa tulis. Sedangkan area Broca adalah pusat bahsa ekspresif. Ketiga pusat tersebut berhubungan satu sama lain melalui serabut asosiasi.
Saat mendengar pembicaraan maka getaran udara yang ditimbulkan akan masuk melalui lubang telinga luar kemudian menimbulkan getaran pada membrane timpani. Dari sini rangsangan diteruskan oleh ketiga tulang kecil dalam telinga tengah ke telinga bagian dalam. Di telinga bagian dalam terdapat reseptor sensoris untuk pendengaran yang disebut Coclea. Saat gelombang suara mencapai coclea maka impuls ini diteruskan oleh saraf VII ke area pendengaran primer di otak diteruskan ke area wernick. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan dalam bentuk artikulasi, diteruskan ke area motorik di otak yang mengontrol gerakan bicara. Selanjutnya proses bicara dihasilkan oleh getaran vibrasi dari pita suara yang dibantu oleh aliran udara dari paru-paru, sedangkan bunyi dibentuk oleh gerakan bibir, lidah dan palatum (langit-langit). Jadi untuk proses bicara diperlukan koordinasi sistem saraf motoris dan sensoris dimana organ pendengaran sangat penting.

Penyebab Keterlambatan Bicara
Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat banyak dan luas, semua gangguan mulai dari proses pendengaran, penerus impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Adapun beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran, kelainan organ bicara, retardasi mental, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism selektif, keterlambatan fungsional, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan terdiri dari lingkungan sepi, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua. Gangguan bicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya.
Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan. Hal lain dapat juga di sebabkan karena diluar organ tubuh seperti lingkungan yang kurang mendapatkan stimulasi yang cukup atau pemakaian 2 bahasa. Bila penyebabnya karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat.
Terdapat 3 penyebab keterlambatan bicara terbanyak diantaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi ini sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional.

Keterlambatan Bicara Fungsional
Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga diistilahkan keterlambatan maturasi atau keterlambatan perkembangan bahasa. Keterlambatan bicara golongan ini disebabkan karena keterlambatan maturitas (kematangan) dari proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak. Gangguan ini sering dialami oleh laki-laki dan sering tedapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal ini merupakan keterlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada umumnya kemampuan bicara akan tampak membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Terdapat penelitian yang melaporkan penderita keterlambatan ini kemampuan bicara saat masuk usia sekolah normal seperti anak lainnya.
Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik dan kemampuan pemecahan masalah visuo-motor anak dalam keadaan normal. Anak hanya mengalami gangguan perkembangan ringan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas lain adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan dan gangguan psikologis lainnya.
Keterlambatan bicara fungsional pada anak sering dialami penderita yang mengalami gangguan alergi terutama dermatitis atopi dan saluran cerna. Gangguan saluran cerna adalah gejala berulang seperti meteorismus, flatus, muntah, konstipasi, diare atau berak darah. Lidah tampak timbal geographic tounge, drooling (sialore) atau halitosis. Seringkali disertai gangguan tidur malam, dengan ditandai sering gelisah, bolak, balik, mengigau, tertawa, menangis dalam tidur, malam terbangun, brushing dan sebagainya.

Cara Membedakan Berbagai Keterlambatan Bicara
Dengan memperhatikan fungsi reseptif, ekspresif, kemampuan pemecahan masalah visuo-motor dan pola keterlambatan perkembangan, dapat diperkirakan penyebab kesulitan berbicara.


Tabel 1. Diagnosis banding beberapa penyebab keterlambatan berbahasa dan bicara
Diagnosis
Bahasa reseptif
Bahasa ekspresif
Kemampuan pemecahan masalah visuo-motor
Pola perkembangan
Keterlambatan fungsional
normal
Kurang normal
Normal
Hanya ekspresif yang terganggu
Gangguan pendengaran
Kurang normal
Kurang normal
normal
Disosiasi
Redartasi mental
Kurang normal
Kurang normal
Kurang normal
Keterlambatan global
Gangguan komunikasi sentral
Kurang normal
Kurang normal
normal
Disosiasi, deviansi
Kesulitan belajar
normal,
kurang normal
Normal
normal,
kurang normal
Disosiasi
Autis
Kurang normal
normal,
kurang normal
Tampaknya normal, normal, selalu lebih baik dari bahasa
Deviansi, disosiasi
Mutisme elektif
normal
Normal
normal,
kurang normal


Dalam membedakan keterlambatan bicara merupakan fungsional atau nonfungsional harus memahami manifestasi klinis beberapa penyebab keterlambatan bicara. Untuk memastikan status keterlambatan fungsional harus dengan cermat menyingkirkan gejala keterlambatan nonfungsional. Gejala umum keterlambatan bicara nonfungsional adalah adanya gangguan bahasa reseptif, gangguan kemampuan pemecahan masalah visuo-motor dan keterlambatan perkembangan,
Dicurigai keterlambatan bicara nonfungsional bila disertai kelainan neurologis bawaan atau didapat seperti wajah dismorfik, perawakan pendek, mikrosefali, makrosefali, tumor otak, kelumpuhan umum, infeksi otak, gangguan anatomis telinga, gangguan mata, cerebral palsi dan gangguan neurologis lainnya.
Ciri lain keterlambatan bicara nonfungsional biasanya termasuk keterlambatan yang berat. Keterlambatan dikatakan berat bila bayi tidak mau tersenyum sosial sampai 10 minggu atau tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban pada usia 3 bulan.Tanda lainnya tidak ada perhatian terhadap sekitar sampai usia 8 bulan, tidak bicara sampai usia 15 bulan atau tidak mengucapkan 3-4 kata sampai usia 20 bulan

Tabel 2. Tampilan klinis keterlambatan bicara yang sering dikaitkan dengan keterlambatan bicara nonfungsional

4 - 6 BULAN
* Tidak menirukan suara yang dikeluarkan orang tuanya;
* Pada usia 6 bulan belum tertawa atau berceloteh
8 - 10 BULAN
* Usia 8 bulan tidak mengeluarkan suara yang menarik perhatian;
* Usia 10 bulan, belum bereaksi ketika dipanggil namanya;
* 9-10 bln, tidak memperlihatkan emosi seperti tertawa atau menangis
12 - 15 BULAN
* 12 bulan, belum menunjukkan mimik;
* 12 bulan, belum mampu mengeluarkan suara;
* 12 bulan, tidak menunjukkan usaha berkomunikasi bila membutuhkan sesuatu;
* 15 bulan, belum mampu memahami arti "tidak boleh" atau "daag";
* 15 bulan, tidak memperlihatkan 6 mimik yang berbeda;
* 15 bulan, belum dapat mengucapkan 1-3 kata;
18 - 24 BULAN
* 18 bulan, belum dapat menucapkan 6-10 kata; tidak menunjukkan ke sesuatu yang menarik perhatian;
* 18-20 bulan, tidak dapat menatap mata orang lain dengan baik
* 21 bulan, belum dapat mengikuti perintah sederhana;
* 24 bulan, belum mampu merangkai 2 kata menjadi kalimat;
* 24 bulan, tidak memahami fungsi alat rumah tangga seperti sikat gigi dan telepon;
* 24 bulan, belum dapat meniru tingkah laku atau kata-kata orang lain;
* 24 bulan, tidak mampu meunjukkan anggota tubuhnya bila ditanya
30 - 36 BULAN
* 30 bulan, tidak dapat dipahami oleh anggota keluarga;
* 36 bulan, tidak menggunakan kalimat sederhana, pertanyaan dan tidak dapat dipahami oleh orang lain selain anggota keluarga;
3 - 4 TAHUN
* 3 tahun, tidak mengucapkan kalimat, tidak mengerti perintah verbal dan tidak memiliki minat bermain dengan sesamanya;
* 3,5 tahun, tidak dapat menyelesaikan kata seperti "ayah" diucapkan "aya";
* 4 tahun, masih gagap dan tidak dapat dimengerti secara lengkap.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan keterlambatan bicara fungsional biasanya tidak memerlukan penanganan secara khusus. Keterlambatan bicara golongan ini biasanya akan membaik setelah usia 2 tahun. Meskipun penyebabnya bukan karena kurang stimulasi, tetapi keadaan ini memerlukan stimulasi yang lebih dibandingkan anak yang normal. Stimulasi yang lebih ini tidak harus melalui terapi bicara oleh seorang terapis yang memerlukan dana dan waktu yang tidak sedikit. Meskipun terapi bicara juga tidak merugikan bagi anak. Pada anak normal tanpa gangguan bicara dan bahasa juga perlu dilakukan stimulasi kemampuan bicara dan bahasa sejak lahir. Bahkan bisa juga dilakukan stimulasi sejak dalam kandungan. Dengan stimulasi lebih dini diharapkan kemampuan bicara dan bahsa pada anak lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan kualitas komunikasinya.
Pada keterlambatan bicara nonfungsional harus dilakukan stimulasi dan intervensi sejak dini secara khusus oleh tenaga profesional sesuai penyebabnya. Semakin dini upaya tersebut dilakukan akan meningkatkan keberhasilan penanganan keterlambatan bicara tersebut. Gangguan keterlambatan nonfungsional perlu dilakukan pendekatan secara multi disiplin ilmu. Penanganan keterlambatan bicara dilakukan pendekatan medis sesuai dengan penyebab kelainan tersebut. Multi disiplin ilmu yang terlibat adalah dokter anak dengan minat tumbuh kembang anak, neurologi anak, gastroenterologi anak, alergi anak, psikolog anak, psikiater anak, rehabilitasi medik, serta klinisi atau praktisi lainnya yang berkaitan.

Penutup
Keterlambatan bicara karena gangguan fungsional atau karena imaturitas fungsi bicara pada anak sering dijumpai. Kelainan ini baisanya tidak berbahaya dan akan membaik pada usia tertentu. Orang tua harus dapat membedakan dengan keterlambatan bicara nonfungsional, karena bila dilakukan intervensi dini dapat memperbaiki prognosis..



Dr Widodo Judarwanto SpA

KORESPONDENSI DAN KOMUNIKASI :

CHILDREN ALLERGY CENTER
Rumah Sakit Bunda Jakarta, Jl Teuku cikditiro 28 Jakarta Pusat
PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN)
JL Rawasari Selatan 50 Jakarta Pusat. Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat
telp : (021) 70081995 - 4264126 - 31922005
email : wido25@hotmail.com , http://alergianak.bravehost.com


http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=10328 

Artikel ini aku cari, berawal  dari mbakku mengeluhkan anaknya yang berumur 18 bulan, belum mampu bicara. Padahal sudah tiap hari diajak komunikasi dan juga berada di  lingkungan orang yang sering mengajaknya berkomunikasi. Juga memalui dongeng dongeng yang diceritakan untuknya. Hanya beberapa kata aja yang bisa dia sebutkan seperti "emoh, nggak, maem, papa, mama." Namun demikian  dia sudah mampu diajak untuk berkomunikasi. Dia Mampu menangkap perintah yang diberikan mamanya. Juga mampu menunjuk barang-barang yang disebutkan mamanya satu per satu. Bicara sendiri merupakan salah satu alat komunikasi yang sangat efektif untuk membuat lingkungan mengeri apa yang kita butuhkan. Dan beda halnya dengan bayi. Dia akan dapat merasakan bahwa dengan bicara dia akan mudah membuat orang lain mengerti maksud atau keinginannya, dibanding jika dia hanya menggunakan bahasa tangis atau gerak.
Melihat pentingnya kemampuan bicara, maka sebagai orang tua sudah pasti mempunyai tanggung jawab agar anak-anak memerka memiliki kemampuan verbal ini.
Agar bayi memiliki kemampuan bicara, maka selain diperlukan kematangan otot-otot bicaranya, diperlukan juga stimulasi bicara kepada bayi dan perangsangan terhadap kemampuan bicaranya.
Sebagai pedoman untuk mengoptimalkan perkembangan kemampuan komunikasi bayi, hendaknya orang memberikan stimulasi bicara kepada bayi, benar-benar dapat memanfaatkan sebaik mungkin masa-masa di mana bayi benar-benar peka atau paling cepat menyerap pengajaran bicara yang diberikan kepadanya (teachable moment). Berdasarkan penelitian, di masa di mana seorang anak peka terhadap pengajaran bicara adalah usia 18, karena pada usia inilah kematangan otot-otot bicara sudah terbentuk dan secara mental anak siap untuk mendapatkan pengajaran.
Selain itu, untuk mengoptimalkan perkembangan kemampuan bicara bayi, hendaknya dalam pemberian stimulasi bicara tidak hanya menggunakan bahasa yang benar atau intonasi suara yang tepat saja, tetapi juga gunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajar. Hal ini dimaksudkan agar isi pembicaraan dapat mudah dipahami anak.
Dalam usaha menstimulasi kemampuan bicara bayi, berikut ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua atau orang-orang yang terlibat dalam pemberian stimulasi:
1. membiasakan bayi mendengar suara. Misalnya melalui kegiatan mendongeng, mendengarkan lagu lagu yang kita nyanyikan sendiri atau dari kaset, mendengarkan pembicaraan melalui radio atau televisi.  Hal ini dimaksudkan agar bayi terbiasa mendengar banyak kosa kata bahasa ibu, sehingga lambat laun dia dapat belajar menirukan atau mengucapkan.
2. Beri dukungan atau respon yang positif kepada bayi setiap kali bayi berusaha untuk bicara atau berespon langsung terhadap bicara kita kepadanya. Misalnya dengan memberikan pujian, ciuman, senyuman, pelukan, dsb. Sehingga bayi merasa senang dan cenderung mengulanginya. Namun sebaliknya, bila bayi hanya menggunakan bahasa isyarat saja, jangan cepat-cepat menuruti apa yang diinginkannya. Ajarkan dan contohkan bagaimana seharusnya diucapkan oleh bayi.
3. Sering-sering mengajak bayi bicara pada saat berinteraksi dengan bayi. Misalnya ketika kita memandikan bayi, katakan dan tunjukkan pada bayi alat-alat yang akan dipakai untuk keperluan mandi serta kegunaannya.
4. Ajak bayi jalan-jalan di lingkungan sekitar rumah, agar bayi dapat berbicara dan terbiasa mendengar bagaimana orang bercakap-cakap.
5. Memberikan contoh bahasa yang benar. Apabila bayi masih belum mampu menggunakan kata-kata dengan benar, maka orangtua seharusnya membebarkan dan tidak malah ikut-ikutan atau sengaja berbicara salah karena mengganggap hal itu lucu. Misalnya ketika bayi mengucap "cucu", maka orangtua seharusnya memperbaiki dengan mengatakan "oh, adik mau susu ya.." Hal ini dimaksudkan agar anak terbiasa belajar mengenai apa yang seharusnya diucapkan.
6. Periksa ke dokter atau ahli bila ada hal-hal yang janggal pada bayi, seperti bayi tidak merespon setiap kali kita ajak bicara. Atau jika bayi belum mampu berbicara pada saat usia 2 tahun atau bayi tenang saja pada saat diperdengarkan suara yang mengangetkan. Karena mungkin saja ada masalah dalam organ pendengar bayi yang membutuhkan bentuk dan cara stimulasi yang lebih khusus.
Semoga artikel ini bermanfaat. Buat kakakku, tetap semangat ya. Jangan terlalu khawatir, karena ternyata memang baru usia 18 bulan ini lah anak semangat-semangatnya belajar bicara
Sumber: Nestle Indonesia.
http://hanum99.multiply.com/journal/item/106/Merangsang_Kemampuan_Bicara_Bayi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar